Majalah bisnis terkemuka, Forbes, melansir daftar orang kaya yang
dermawan di kawasan Asia. Ada 48 orang kaya yang masuk jajaran 48 Heroes
of Philanthropy. Mereka dianggap dermawan atau baik hati lantaran kerap
membuat program-program kemanusiaan dengan dana yang besar dari
perusahaan. Pengusaha yang dicap dermawan oleh Forbes, tergolong cukup
rajin membantu masyarakat miskin dengan pelbagai program yang inovatif.
Dari
48 orang yang masuk jajaran pengusaha dermawan se-Asia, ada empat orang
pengusaha Indonesia di dalamnya. Di dalam negeri, kita memang sering
melihat pelbagai aksi kemanusiaan yang dilakukan pengusaha. Namun, tidak
semua pengusaha di Indonesia yang kerap melakukan aksi kemanusiaan,
masuk jajaran orang dermawan versi Forbes.
Forbes punya penilaian
khusus. Salah satu yang masuk jajaran pengusaha dermawan adalah mantan
Wakil Presiden yang kini menjabat sebagai ketua Palang Merah Indonesia
(PMI) Jusuf Kalla. Siapa saja pengusaha dermawan dari Indonesia versi
Forbes? Berikut empat orang tersebut.
1. Anne Avantie (perancang busana)
Anne
Avantie menjadi penyokong dana untuk Wisma Kasih Bunda. Wisma Kasih
Bunda ialah sebuah rumah di Semarang untuk anak-anak dengan hidrosefalus
dan gangguan lainnya.
Anne telah membantu lebih dari 800 anak
sejak dia pertama kali mendirikan fasilitas tersebut pada 2002. Dia juga
membantu membayar biaya medis hingga USD 2.000 atau setara Rp 19,6 juta
per anak.
Sebagai social entrepreneur dia juga membiayai
pelatihan dan lokakarya untuk penjahit, mahasiswa dan ibu rumah tangga.
Wanita berumur 49 tahun ini turut membuka Pendopo, sebuah toko yang
menjual pakaian hasil para penjahit lokal.
2. Muhammad Jusuf Kalla (pemilik Kalla Grup)
Salah
satu mantan presiden Indonesia ini telah bersumpah untuk meningkatkan
kinerja bank darah nasional dalam upaya meningkatkan pasokan kepada
pasien rumah sakit dan korban bencana.
Kalla Foundation, yayasan
sosial yang telah berdiri selama 29 tahun bentukannya ini, telah
menyumbang USD 1,3 juta atau setara Rp 12,7 miliar tahun lalu. Dana
tersebut diperuntukkan membangun sekolah khusus anak-anak miskin di
Bone, Sulawesi Selatan dan menanam 10.000 pohon di sepanjang hamparan
pantai Sulawesi Selatan.
Yayasan ini didanai melalui melalui
perusahaan swasta yakni Kalla Grup yang bergerak di bidang usaha
otomotif dan properti. Jusuf Kalla juga memutuskan memberi 20 persen
keuntungan dari proyek pembangkit listrik tenaga air di Sulawesi Tengah
milik Kalla Grup untuk yayasan.
3. Tahir (pemilik Mayapada Grup)
Pendiri
Mayapada Grup ini terkenal menjadi salah satu pendonor pada mahasiswa
dan perguruan tinggi. Yayasan miliknya, Yayasan Tahir, pada April lalu
berjanji akan menyumbang dana mencapai USD 25 juta atau sekitar Rp 245
miliar untuk satu tujuan ambisius yakni memberantas polio di Indonesia
pada 2018.
Angka tersebut sama besarannya dengan yang akan
dikeluarkan Yayasan Bill dan Melinda Gates dalam mendorong vaksinasi dan
kampanye pendidikan. Sumbangan tersebut merupakan bagian dari total
kebutuhan dana sebesar USD 200 juta untuk lebih dari 5 tahun dalam
mendukung kesehatan masyarakat dalam memberantas penyakit menular
seperti TBC, malaria dan HIV.
Setiap yayasan ini akan menyumbang dana mencapai USD 100 juta.
4. Irwan Hidayat (pemilik Sido Muncul Grup)
Pemilik
Grup Sido Muncul ini rata-rata menghabiskan USD 280.000 atau setara Rp
2,7 miliar setiap tahun untuk mengadakan program Mudik Gratis. Program
ini diperuntukkan pada pekerja berpenghasilan rendah di wilayah Jakarta
selama liburan Islam Idul Fitri.
Dimulai sejak 22 tahun yang lalu,
program ini telah memberikan mudik gratis pada sekitar total 190.000
orang. Saat ini, mudik gratis telah menyewa sekitar 300 bus per tahun.
Sejak
2010 dia juga menghabiskan USD 2,5 juta atau Rp 122,5 miliar per tahun
untuk operasi mata gratis bagi 12.000 orang penderita katarak. Program
ini bekerjasama dengan 97 rumah sakit swasta dan 100 rumah sakit militer
di seluruh negeri.
Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki penderita penyakit katarak tertinggi di Asia Tenggara




Tidak ada komentar:
Posting Komentar